Jumat, 28 September 2012

HEPATITIS B PADA WANITA HAMIL

Pada wanita hamil kemungkinan untuk terjangkit hepatitis virus adalah sama saja dengan wanita tidak hamil pada umur yang sama. kelainan hepar yang mempunyai hubungan selekasnya dengan peristiwa kehamilan, merupakan :acute fatty liver of pregnancy ( obstetric acute yellow-atrophy ). recurrent intra-hepatic cholestasis of pregnancy. ( 2 )infeksi hepatitis virus pada kehamilan tidak berkenaan selekasnya dengan peristiwa kehamilan, namun terus memerlukan penanganan khusus, mengingat penyulit-penyulit yang mungkin timbul baik untuk ibu maupun janin.

Hepar di dalam kehamilan

pada kehamilan, hepar nyatanya tidak alami pembesaran. tentang ini bertentangan dengan penelitian pada binatang yang tunjukkan bahwa hepar membesar pada waktu kehamilan. jika kehamilan sudah menggapai trimester ke iii sukar untuk lakukan palpasi pada hepar, lantaran hepar tertutup oleh pembesaran rahim. oleh lantaran itu jika pada kehamilan tri-mester ke iii hepar dapat dengan mudah diraba, berarti sudah ada kelainan-kelainan yang amat bermakna.
perubahan-perubahan mikroskopik pada hepar dikarenakan kehamilan adalah tidak khas. pengaliran darah ke di dalam hepar tidak alami perubahan, walau terjadi perubahan yang amat menyolok pada sistem kardio vaskuler. ( 2 )wanita hamil sering perlihatkan tanda sinyal sama adanya penyakit-penyakit hepar, perumpamaannya : spider naevi dan palmarerythema, yang wajar pada kehamilan, dikarenakan meningkatnya kandungan estrogen. semua protein serum yang disintese di dalam hepar bisa alami perubahan pada waktu kehamilan. jumlah protein serum menurun kurang lebih 20% pada trimester ii, dikarenakan penurunan kandungan albumin dengan menyolok, masih fibrinogen justru alami kenaikan.

efek hepatitis virus pada kehamilan serta janin

jika hepatitis virus terjadi pada trimester i atau permulaan trimeseter ii lantas gejala-gejala nya bisa sama saja dengan sinyal tanda hepatitis virus pada wanita tidak hamil. walau gejala-gejala yang timbul relatip lebih gampang dibanding dengan gejala-gejala yang timbul pada trimester iii, namun penderita baiknya terus dirawat di area tinggal sakit.

hepatitis virus yang terjadi pada trimester iii, bisa mengakibatkan gejala-gejala yang lebih berat dan penderita umumnya perlihatkan gejala-gejala fulminant. pada fase inilah acute hepatic necrosis sering terjadi, dengan mengakibatkan mortalitasibu yang amat tinggi, di banding dengan penderita tidakhamil. pada trimester iii, adanya defisiensi faktor lipo tropikdisertai kepentingan janin yang meningkat bisa nutrisi, menyebabkan penderita mudah jatuh di dalam acute hepatic necrosistampaknya keadaan gizi ibu hamil amat menentukan prognose.

penyelidik lain juga menyimpulkan, bahwa berat gampang sinyal tanda hepatitis virus pada kehamilan amat bergantung dari kondisi gizi ibu hamil. gizi buruk terlebih defisiensi protein, ditambah juga meningkatnya kepentingan protein untuk perubahan janin, menyebabkan infeksi hepatitis virus pada kehamilan berikanlah gejala-gejala yang makin lebih berat. efek kehamilan pada berat ringannya hepatitis virus, telah diselidiki oleh adam, yaitu dengan langkah melacak hubungan pada perubahan-perubahan koagulasi pada kehamilan dengan beratnya gejala-gejala hepatitis virus. diketahui bahwa pada wanita hamil, dengan fisiologik terjadi perubahan-perubahan di dalam proses pembekuan darah, yaitu dengan kenaikan faktor-faktor pembekuan dan penurunan kegiatan fibrinolitik, sampai pada kehamilan mudah terjadi dic( disseminated intra vascular coagulation ).

di dalam penelitian ini bisa dibuktikan bahwa dic tidak bertindak waktu menambah beratnya hepatitis virus pada kehamilan. tetapi sebaliknya, jika sudah terjadi gejala-gejala hepatitis virus yang fulminant, barulah dic mempunyai arti. hepatitis virus pada kehamilan dapat ditularkan pada ja-nin, baik in utero maupun selekasnya setelah lahir. penularan virus ini pada janin, dapat terjadi dengan langkah langkah-cara, yaitu :

lewat placenta
kontaminasi dengan darah dan tinja ibu pada waktu persalinan
kontak selekasnya bayi baru lahir dengan ibunya
lewat air susu ibu, pada waktu laktasi.

baik virus a maupun virus b dapat menembus placenta, sampai terjadi hepatitis virus in utero dengan dikarenakan janin lahir mati, atau janin mati pada periode neonatal. jenis virus yang makin banyak dilaporkan dapat menembus placenta, merupakan virus type b. kian lebih satu bukti, bahwa virus hepatitis dapat menembus placenta, merupakan ditemukannya hepatitis antigen di dalam tubuh janin in utero atau pada janin baru lahir. tidak cuma itu telah ditangani juga autopsy pada janin-janin yang mati pada periode neonatal dikarenakan infeksi hepatitisvirus. hasil autopsy perlihatkan adanya perubahan-perubahan pada hepar, diawali dari nekrosis sel-sel hepar sampai suatubentuk cirrhosis.

perubahan-perubahan yang lanjut pada hepar ini, hanya mungkin terjadi jika infeksi sudah mulai terjadi sejak janin di dalam rahim. kelainan yang ditemukan pada hepar janin, makin banyak terpusat pada lobus kiri. tentang ini tunjukkan, bahwa penyebaran virus hepatitis dari ibu ke janin dapat terjadi dengan hematogen. angka tentang penularan virus hepatitis dari ibu ke janinatau bayinya, bergantung dari tenggang waktu pada timbulnya infeksi pada ibu dengan waktu persalinan.

angka sangat tinggi didapatkan, jika infeksi hepatitis virus terjadi pada kehamilan trimester iii. walau pada ibu-ibu yang alami hepatitis virus pada waktu hamil, tidak berikanlah gejala-gejala icterus pada bayi-nya yang baru lahir, namun tentang ini tidak berarti bahwa bayi yang baru lahir tidak mempunyai kandungan virus tersebut. ibu hamil yang menderita hepatitis virus b dengan gejala-gejala klinik yang jelas, bisa mengakibatkan penularan pada janinnya jauh makin besar di banding dengan ibu-ibu hamil yang hanya merupakan carrier tanpa sinyal tanda klinik.

pengobatan

pengobatan infeksi hepatitis virus pada kehamilan tidak berbeda dengan wanita tidak hamil. penderita harus tirah baring di area tinggal sakit sampai sinyal tanda icterus hilang dan bilirubin di dalam serum lantas normal. makanan diberikan dengan sedikit mempunyai kandungan lemak tetapi tinggi protein dan karbohydrat. pemakaian obat-obatan hepatotoxic baiknya dihindari. kortison baru diberikan jika terjadi penyulit. perlu diingatpada hepatitis virus yang aktip dan cukup berat, mempunyai risiko untuk terjadi perdarahan post-partum, lantaran menurun-nya kandungan vit. k. janin baru lahir baiknya terus diikuti sampai periode post natal dengan ditangani pemeriksaantransaminase serum dan kontrol hepatitis virus antigen dengan periodik. janin baru lahir tidak butuh diberi pengobatan khusus jika tidak alami penyulit-penyulit lain. jalan keluar alternatifnya dapat konsumsi obat herbal untuk hepatitis b.

pencegahan

semua ibu hamil yang alami kontak selekasnya dengan penderita hepatitis virus a baiknya diberi immuno globuli nsejumlah 0, 1 cc/kg. berat badan. gamma globulin ternyatatidak efektif untuk menghindar hepatitis virus b. gizi ibu hamil baiknya dipertahankan seoptimal mungkin, lantaran gizi yang buruk mempermudah penularan hepatitis virus. untuk kehamilan berikut baiknya diberi jarak sekurang-kurangnya enam bln. setelah persalinan, dengan syarat setelah 6 bln. tersebut semua sinyal tanda dan kontrol laborato-rium telah kembali normal. setelah persalinan, pada penderita baiknya terus dilakukanpemeriksaan laboratorium kurun waktu dua bln., empat bulan dan enam bln.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...